Pagi ini, aku menerima sebuah email dari seorang teman nun
jauh disana. Membaca emailnya yang panjang, membuatku senang sekali, sekaligus merindukan
masa lalu, dimana aku sering sekali menerima email panjang dari teman-teman. Seiring
berjalannya waktu dan perkembangan teknologi, fasilitas “pesan pendek” sudah jauh lebih maju. Sejak kemunculan
Facebook, dimana kita bisa memasang pesan di dinding teman (haha. sok baku
bahasaku), email sudah mulai ditinggalkan sebagian besar orang. Orang-orang
cenderung mengirimkan pesan pendek lewat FB (nama pendek si Facebook), ataupun
hanya sekedar menulis di dinding. Komunikasi pun menjadi sepotong-potong yang
pendek. Kemudian, jika berkenalan dengan orang baru, yang ditanya bukan lagi
nomor hp atau email, tapi minta akun Facebooknya.
Tak lama setelah teknologi Facebook/Twitter (yang sampai
sekarang aku tak ngerti cara pakainya), muncul lagi “telepon-telepon pintar”
yang memungkinkan orang berkomunikasi dengan lebih cepat dan lebih murah. Orang-orang
bisa chat melalui BBM, Whatsapp, Tango, MiTalk, Line dan sebagainya yang
harganya sudah termasuk dalam paket internet. Tidak ada tambahan biaya selama
paket internet masih berlaku. Dulu,
pesan pendek hanya dilakukan melalui SMS, dengan biaya 350 rupiah per SMS,
sehingga untuk SMS pun disusun rapi dalam budget dan terbatas. Email pun
ditinggalkan lebih jauh lagi oleh masyarakat. Nah, sekarang ini, jika
berkenalan dengan orang baru, yang ditanya bukan lagi akun Facebook, tapi PIN
BB ataupun whatsapp.
Satu sisi, teknologi memang membantu mempercepat komunikasi
antar manusia. Tapi disisi lain, menurut pendapatku, komunikasi pendek membuat
orang-orang tidak lagi terbiasa mengekspresikan diri/perasaan/pendapat melalui
tulisan panjang. Tulisan-tulisan pendek, yang kadang tidak menyampaikan konteks
utuh, acapkali menimbulkan kesalahpahaman, karena pesan yang utuh menjadi
terpotong-potong. Belum lagi waktu penyampaian kadang terhambat oleh kendala
kecepatan internet. Potongan pesan antara pengirim dan penerima saling tumpang
tindih sehingga mempersulit pemahaman isi pesan.
Tentu saja, aku tidak menyalahkan teknologi tersebut. Hanya
saja, kemunculan fasilitas komunikasi pendek itu, membuat ku sangat amat jarang
menerima email-email panjang. Aku sendiri sangat menyukai membaca email
panjang, karena isinya sangat menyejukkan. Setidaknya, aku tahu, sang pengirim
email itu pasti sudah meluangkan waktu untuk menulis setiap email itu. Email
panjang (menurutku) lebih dapat menggambarkan suasana hati/ide/sifat sang penulis.
Dan email panjang mewakilkan niatnya saat menulis. Email jauh lebih ekspresif
dibandingkan pesan-pesan pendek. Aku bisa mengikuti alur cerita emailnya,
sehingga lebih bisa membayangkan kira-kira seperti apa hidupnya disana. Memang
email ada kekurangannya juga, karena penulis harus meluangkan waktu, sehingga
sulit dilakukan jika dipenuhi dengan segala macam kesibukan.
Aku merindukan email-email panjang untuk dibaca.. Merindukan
cerita teman-teman, tentang kehidupan mereka dimanapun mereka berada. Aku
selalu merasa begitu gembira, jika mendapatkan email teman masuk ke inbox ku. Melalui
pesan pendek, biasanya aku hanya mendapatkan informasi dari pertanyaan, “apa
kabar?” (yang selalu dijawab dengan “baik”) dan “lagi ngapain?” (yang biasanya
tidak memberikan banyak informasi)
Kuakui, belakangan pun, aku sudah sangat jarang menulis email
panjang. Aku sangat ingin melakukannya, tapi jadwal yang padat, membuatku tak
sempat duduk untuk menulis email. Aku perlu mood yang pas untuk menulis, dan di
saat kelelahan, mood itu susah dibangkitkan.
Pepatah mengatakan, tidak ada asap tanpa api. Aku tahu, aku
tidak bisa menuntut orang-orang di luar untuk melakukannya, aku hanya bisa
mengajak saja. Dan mungkin aku harus memulai dari diriku sendiri,
membudidayakan menulis email, supaya budaya menulis email ini tidak hilang. Aku
harus mulai menyempatkan diri menuliskan email-email panjang ke teman-teman,
supaya (semoga) mendapatkan juga balasan dengan email panjang.
Dalam kerinduan
menulis,
Jakarta, 2 Maret 2013
No comments:
Post a Comment