Saturday, March 2, 2013

Budidaya Menulis Email



Pagi ini, aku menerima sebuah email dari seorang teman nun jauh disana. Membaca emailnya yang panjang, membuatku senang sekali, sekaligus merindukan masa lalu, dimana aku sering sekali menerima email panjang dari teman-teman. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi, fasilitas “pesan pendek”  sudah jauh lebih maju. Sejak kemunculan Facebook, dimana kita bisa memasang pesan di dinding teman (haha. sok baku bahasaku), email sudah mulai ditinggalkan sebagian besar orang. Orang-orang cenderung mengirimkan pesan pendek lewat FB (nama pendek si Facebook), ataupun hanya sekedar menulis di dinding. Komunikasi pun menjadi sepotong-potong yang pendek. Kemudian, jika berkenalan dengan orang baru, yang ditanya bukan lagi nomor hp atau email, tapi minta akun Facebooknya.

Tak lama setelah teknologi Facebook/Twitter (yang sampai sekarang aku tak ngerti cara pakainya), muncul lagi “telepon-telepon pintar” yang memungkinkan orang berkomunikasi dengan lebih cepat dan lebih murah. Orang-orang bisa chat melalui BBM, Whatsapp, Tango, MiTalk, Line dan sebagainya yang harganya sudah termasuk dalam paket internet. Tidak ada tambahan biaya selama paket internet masih berlaku.  Dulu, pesan pendek hanya dilakukan melalui SMS, dengan biaya 350 rupiah per SMS, sehingga untuk SMS pun disusun rapi dalam budget dan terbatas. Email pun ditinggalkan lebih jauh lagi oleh masyarakat. Nah, sekarang ini, jika berkenalan dengan orang baru, yang ditanya bukan lagi akun Facebook, tapi PIN BB ataupun whatsapp.

Satu sisi, teknologi memang membantu mempercepat komunikasi antar manusia. Tapi disisi lain, menurut pendapatku, komunikasi pendek membuat orang-orang tidak lagi terbiasa mengekspresikan diri/perasaan/pendapat melalui tulisan panjang. Tulisan-tulisan pendek, yang kadang tidak menyampaikan konteks utuh, acapkali menimbulkan kesalahpahaman, karena pesan yang utuh menjadi terpotong-potong. Belum lagi waktu penyampaian kadang terhambat oleh kendala kecepatan internet. Potongan pesan antara pengirim dan penerima saling tumpang tindih sehingga mempersulit pemahaman isi pesan.

Tentu saja, aku tidak menyalahkan teknologi tersebut. Hanya saja, kemunculan fasilitas komunikasi pendek itu, membuat ku sangat amat jarang menerima email-email panjang. Aku sendiri sangat menyukai membaca email panjang, karena isinya sangat menyejukkan. Setidaknya, aku tahu, sang pengirim email itu pasti sudah meluangkan waktu untuk menulis setiap email itu. Email panjang (menurutku) lebih dapat menggambarkan suasana hati/ide/sifat sang penulis. Dan email panjang mewakilkan niatnya saat menulis. Email jauh lebih ekspresif dibandingkan pesan-pesan pendek. Aku bisa mengikuti alur cerita emailnya, sehingga lebih bisa membayangkan kira-kira seperti apa hidupnya disana. Memang email ada kekurangannya juga, karena penulis harus meluangkan waktu, sehingga sulit dilakukan jika dipenuhi dengan segala macam kesibukan.

Aku merindukan email-email panjang untuk dibaca.. Merindukan cerita teman-teman, tentang kehidupan mereka dimanapun mereka berada. Aku selalu merasa begitu gembira, jika mendapatkan email teman masuk ke inbox ku. Melalui pesan pendek, biasanya aku hanya mendapatkan informasi dari pertanyaan, “apa kabar?” (yang selalu dijawab dengan “baik”) dan “lagi ngapain?” (yang biasanya tidak memberikan banyak informasi)

Kuakui, belakangan pun, aku sudah sangat jarang menulis email panjang. Aku sangat ingin melakukannya, tapi jadwal yang padat, membuatku tak sempat duduk untuk menulis email. Aku perlu mood yang pas untuk menulis, dan di saat kelelahan, mood itu susah dibangkitkan.

Pepatah mengatakan, tidak ada asap tanpa api. Aku tahu, aku tidak bisa menuntut orang-orang di luar untuk melakukannya, aku hanya bisa mengajak saja. Dan mungkin aku harus memulai dari diriku sendiri, membudidayakan menulis email, supaya budaya menulis email ini tidak hilang. Aku harus mulai menyempatkan diri menuliskan email-email panjang ke teman-teman, supaya (semoga) mendapatkan juga balasan dengan email panjang.

Dalam kerinduan menulis,
Jakarta, 2 Maret 2013

No comments:

Post a Comment