Monday, June 17, 2013

Terima Kasih Thay..

Semakin hari aku menjalani hidupku, semakin aku merasa betapa beruntungnya diriku memiliki kesempatan bertemu praktek, salah satunya bertemu dengan tulisan Thay. Terima kasih yang mendalam kepada ciciku yang mengenalkan tulisan Thay kepadaku dan terima kasih kepada Ko Jimmy Lominto..

Setiap kali aku membaca tulisan Thay, aku seperti dipeluk, aku merasa aman, aku merasa terlindungi, aku merasa hangat dan aku merasa yakin untuk kembali terus melangkah. Ketika hidup dipenuhi kegalauan, tulisan Thay sungguh menyejukkan. Ketika sesuatu tak berjalan lancar, alih-alih berakhir membenci diri, aku belajar untuk melihat kekurangan dalam diriku dan aku belajar menerima diri. Mengenali energi kebiasaan di dalam diri dan bertekad untuk bertransformasi. Tentu saja aku tidak boleh menggunakan ini semua untuk pembenaran diri di setiap kesalahan ku. Hanya saja, membenci diri sendiri juga bukan solusi yang tepat. 

Dulu saat pertama kali mengambil latihan perhatian penuh di retret Thay di Jakarta, aku hanya mengambil latihan ke empat, "Cara bicara yang penuh cinta kasih". Itu karena aku tukang nyolot, jadi teman-teman "mendesak" ku untuk mengambil sila itu. 

Setelah mengambil sila itu, yang perlu kulakukan adalah membacanya setiap hari. Aku awalnya cukup meragukan apakah itu akan bermanfaat atau tidak. Nyolot sudah menjadi bagian dari diriku yang mungkin akan susah diubah. Awalnya, aku tidak merasakan apa-apa. Hingga suatu hari, saat aku nyolot, sepotong kalimat dari sila itu muncul di pikiranku "knowing that words can bring suffering or happiness". Tiba-tiba aku terdiam dan terpukau, kalimat itu tidak lagi keluar dari mulutku. Ternyata hanya membaca ulang latihan perhatian penuh membantu meningkatkan awareness ku. Tentu saja aku belum mahir urusan ini, tapi aku mendapatkan "alat" untuk "menjinakkan" mulutku. Nyolotku masih tetap, tapi udah lebih berkesadaran. Hahaha. Kata-kata yang dipakai juga lebih selektif..

Latihan keempat ini juga mengajarkan ku untuk mendengar secara mendalam. Dan ternyata bagian ini jauh lebih susah. Mengerem mulut untuk tidak memotong atau menyolot itu sudah tidak gampang. Sekalipun  berhasil, mulut tidak menyuarakan, di otakku selalu penuh skenario. Sister Chan Kong juga berpesan padaku untuk berlatih mendengar. Haha. Kuping jangan hanya sekedar pangsit..

Thay mengajarkan begitu banyak panduan praktikal dalam hidup, bagaimana berhadapan dengan masalah yang muncul dalam interaksi dengan manusia. Beberapa poin yang benar-benar sudah sangat membantu ku adalah: 

1. Persepsi
Semua hal yang terjadi di dunia itu hanya kita pahami melalui persepsi kita. Persepsi ini dipengaruhi oleh latar belakang kita, pengetahuan, pengalaman dan bahkan suasana hati kita. Jika satu hal terjadi di depan 5 orang, mungkin bisa menghasilkan cerita yang berbeda, tergantung dari sisi mana orang-orang tersebut menilainya dan latar belakang orang-orang tersebut. Oleh karena kebenaran persepsi yang sungguh relatif, persepsi bukanlah suatu pegangan yang kokoh. Kita tidak boleh terlalu meyakini persepsi kita. 

Perbedaan persepsi inilah yang sering kali menimbulkan kesalahpahaman. Orang lain melakukan dengan niat baik, tapi bisa saja kita memahaminya sebagai sesuatu yang buruk. Jadi, untuk mengatasi hal ini, dianjurkan komunikasi. Thay juga mengajarkan cara "Beginning a New", suatu cara untuk menyelesaikan konflik/kesalahpahaman. 

Cara ini sungguh melegakan kalo bisa dilakukan. Sayangnya, aku bukan tipe orang yang ekspresif untuk urusan serius. Kalo ngalor ngidul aku jago berkicau, tapi kalo urusan serius, lebih sering kupendam. Paling maksimal kutulis biasanya. Dan karena tulisan itu ga bernada, jadi lebih bahaya kalo kusodorkan itu untuk menyelesaikan kesalahpahaman. Bisa jadi lingkaran setan ga berujung. Memendam terus menerus tak sehat juga, karena aku sebenarnya tak menyelesaikan masalah itu. Aku hanya menebak-nebak. Tapi untuk mengkomunikasikannya butuh kekuatan luar biasa. Aku kadang berniat mencoba nya, tapi begitu ketemu pihak lain, aku kehilangan kata-kata. 

Belakangan ini, aku berhasil mencobanya (baca: baru habis berantem). Intinya 5 menit, tapi butuh pemanasan berjam-jam, sampai pembicaraan nyampe ke topiknya. Tapi benar saja, setelah itu kulakukan, hati ini berhenti menerka-nerka, semua menjadi lebih jelas. Lega sekali rasanya. Seperti sebuah pembebasan batin. Apa yang kupersepsi kan ternyata beda banget dengan apa yang sesungguhnya terjadi.. 

2. Understanding and No Judgement
Setelah tahu bahwa persepsi masing-masing orang berbeda, aku belajar untuk tidak menghakimi orang dengan apa yang ku persepsikan, karena bisa jadi aku salah. Aku belajar untuk mencoba melihat latar belakang mereka dan mencoba memahami mengapa mereka melakukan hal seperti itu. Kadang terlihat logika yang sangat jelas setelah kita mencoba melihat dari sisi mereka (meskipun kita tak bisa benar-benar sepenuhnya melihat dari kacamata mereka). Kalo kita di posisi dia pun, kita akan begitu. 

Jika itu memang sesuatu yang tak baik dan kita melihat faktor yang membuatnya begitu, tidak hanya kita lebih mudah untuk tidak marah, tetapi kita menjadi lebih bersimpati. Dan jika sifat itu tidak ada di diri kita, kita juga menjadi bersyukur karena kita beruntung tumbuh dalam kondisi yang lebih baik, dijauhkan dari hal tersebut. 

3. Forgiveness and Acceptance
Dengan lebih pengertian, akan lebih mudah untuk memaafkan "kesalahan" orang lain. Kita juga menjadi tidak terlalu menuntut orang lain untuk seperti kita dan belajar menerima orang lain apa adanya. Setelah kita terima mereka apa adanya, akan berkurang konflik dalam batin kita.. 

Aku menulis ini bukan karena aku sudah bisa melakukannya dengan baik. Aku hanya sudah pernah mencobanya sekali dan merasakan manfaatnya. Dalam kasus ini mungkin aku berhasil, tapi tidak berarti hati ku cukup lapang untuk kasus yang lain. 

Aku bertekad untuk terus berlatih dan terus bertransformasi demi manfaat semua makhluk.. Terima kasih kepada Buddha Dharma, semua sebab dan kondisi, semua guru spiritual, semua makhluk dan alam semesta atas kesempatan mengenal ajaran dan mencoba mempraktekkannya. 

Deep bow in gratitude..

No comments:

Post a Comment