Hari ini, dalam sit pagi ku, muncul sebuah perasaan yang tidak mengenakkan.. Yah.. it's jealousy. Well, dalam kesadaranku yang redup-redup itu, aku melihat, betapa jealousy itu sungguh mengerikan, ia bisa membangkitkan kemarahan dan kebencian yang luar biasa. Jealousy menurutku ada 2 hal, iri dan cemburu.
Dalam hal cemburu, aku punya seorang teman dekat dan dia punya seorang teman dekat. Ntah kenapa, aku bisa begitu jealous dengan teman dekatnya ini, padahal, mereka juga jarang komunikasi, ketemuan juga sebulan ato dua bulan sekali dan itu pun hanya 2-3 jam. Aku malah ketemu temanku hampir tiap hari.
Aneh nya lagi, teman dekat ku ini juga bukan cowo ku, bukan pula seseorang yang mau kumiliki untuk masa depan. Kami dua manusia yang sungguh berbeda, yang kalo ketemu hanya untuk berperang saja.
Ntah sumbernya dari mana, tapi jealousy ini terasa begitu kuat. Tapi yang jelas, teman dekat nya itu begitu cantik :).
Cemburu itu buta?
Dalam pengamatanku, cemburu itu tidak buta, tapi malah cenderung membutakan.
Aku sangat yakin, pasti ada sesuatu yang mendasari seseorang untuk cemburu, mungkin hanya tidak disadari, jadi berkesan buta. Aku sendiri melihat 2 hal dibalik cemburu:
1. Orang di seberang sana memiliki sesuatu yang seseorang inginkan tapi belum ia dapatkan.
Level iri/cemburu itu tergantung seberapa besar hal yang seseorang inginkan. Jika itu sangat krusial (menurut yang bersangkutan), maka jealousy ini bisa sangat kuat. Semakin krusial, semakin jealouslah orang ini.
2. Ketidakpercayaan diri.
Meskipun seseorang sudah memiliki apa yang dia punya, tidak berarti jealousy ini akan hilang. Kalo orang tersebut tidak percaya diri, jealousy ini justru akan lebih mengerikan setelah memiliki apa yang ia inginkan. Ia akan ketakutan setiap hari, menjaga apa yang sudah digenggamnya dan tidak akan membiarkan seorang pun menyentuhnya.
Nah, disinilah mengerikannya. Ketidakpercayaan diri tersebut memicu pelbagai macam persepsi negatif. Contoh paling simple, cemburu pada pasangan. Pasangan sudah punya kita, toh? Karena ketidakpercayaan diri, kita mencurigai semua manusia sejenis kita yang dekat dengan pasangan kita. Orang lewat sekedar say Hi pun mungkin bisa membuat kita emosi.
Inilah yang kusebut dengan cemburu yang membutakan. Orang menjadi berpegang teguh pada setiap persepsi negatif yang ia miliki terhadap orang lain, sehingga tidak muncul rasa percaya pada orang lain, bahkan terhadap pasangan sendiri. Yang ada hanya rasa curiga dan tidak aman. Padahal, yang namanya persepsi itu kan tidak selamanya benar, itu hanya apa yang seseorang liat dari sisinya.
Tapi dari secercah insight pagi ini, aku jadi mengerti perasaan temanku. Aku jadi mengerti, mengapa dia bisa begitu emosi/membenciku, saat aku menyapa pasangannya. Aku dulu tidak mengerti kenapa dia begitu, toh aku tak ngapa-ngapain pasangannya. Memang ketika diliputi jealousy, people can't see clearly. Logic just doesn't work. Meskipun dunia damai aman di luar sana, hati tetap merasa ada yang tak beres. Tapi kurasa dua alasan ku di atas bukan sesuatu yang mendasari jealousy nya..
Cemburu juga membutakan pertemanan. Seseorang bisa lupa kalo ia dan kita adalah teman.
Mengatasnamakan keadilan untuk membenarkan jealousy kita.
Point ini aku sadari saat pulang ke Singkawang dan sembahyang di kuil "Guan Gong", yang bagiku adalah Dewa Keadilan. Ketika memegang dupa dan menghadap altar, tiba-tiba aku menyadari satu hal, aku mungkin sering mengatasnamakan keadilan, untuk membenarkan jealousy ku.
Aku sibuk berteriak di luar sana, bahwa ketidakadilan sedang terjadi. Tapi setelah kugali lebih dalam, apa motivasi ku berkoar-koar? Apakah aku benar-benar peduli dengan keadilan?
Haha.. Setelah kutelaah lebih lanjut, aku hanya iri. I am just jealous. Sebagian besar motivasi ku, adalah karena si jealousy itu.
Jadi, ketika kita merasa ingin berteriak tentang ketidakadilan di luar sana, balik dan bertanyalah pada diri kita sendiri, apa motivasi kita sebenarnya? Jangan sampai kita malah mengatasnamakan keadilan untuk membenarkan jealousy kita.
Aku tidak tahu apakah membela keadilan dengan motivasi jealousy adalah sesuatu yang benar, meskipun tindakan luar nya dalam bentuk yang sama, tapi bukankah niat itu yang paling utama?
Well, dari semua pemikiran tentang si jealousy, aku tetap belum menemukan solusi bagaimana mengatasi jealousy. Haha. Energi ini sungguh aneh. Aku lebih bisa mengatasi anger (karena kudeteksi ini sudah dari zaman bahela), tapi belum dengan jealousy.
Ada sebuah postingan di facebook, tentang seseorang menemui Sang Buddha dan berkata, "I want happiness". Dan Buddha menjawab, buanglah I (ego), buanglah want (desires), maka yang kamu punya adalah happinesss.
Secara teori, ini adalah solusinya. Ketika tak punya I, tak ada lagi milikku, bagaimana kita bisa iri lagi?
Ketika tak punya want, maka kita pun tidak mungkin tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, karena kita tidak menginginkan apa-apa juga.
Prakteknya?
...
Masih jauuuuuuuuuuuuuuh.. Nyoook mareeee..
Semoga semua makhluk terbebas dari jealousy, semua makhluk dapat bersyukur atas apa yang sudah dimiliki..
Dalam redup-redup kesadaran...
Waratah West, 24 September 2014
No comments:
Post a Comment